Waktu pertama kali saya dapat kabar kalau saya diberi tugas untuk mengerjakan project salah satu operator di Bali, jujur reaksi saya datar. Mungkin ada perasaan "wihh" gimanaa gitu, tapi lebih banyak bingungnya. Gak tau mesti bereaksi seperti apa, yang jelas rada sedih aja karna gagal dapat project bandung..
Tapi kemudian saya semangat dan berdoa semoga project Bali ini mengharuskan saya kesana, tidak remote dari Jakarta. Ini karna semata-mata saya sudah jenuh dengan ibu kota. Saya ingin kabur dari kepenatan Jakarta, saya tidak ingin tinggal di kota itu lagi. Dan, yaa.. tadaaa.. doa saya terkabul. Project ini benar-benar membawa saya ke pulau seribu dewa yang indah ini :')
"Wah, keren tuh nisa.. kamu berarti udah jago dan diandalkan kalau sampai ditugaskan ke Bali"
- Ibu dan Bapak kos
"Wah hebat, berarti cucu apa (kakek, red) bisa belajar lebih dewasa ya"
- Kakek dari Bapa
"Teh Yuan, uwa seneng banget denger kabar Yuan mau tugas ke Bali. Itu berarti karir Yuan meningkat, sukses terus yaa.."
- Uwa
"Ambil nis hajaar, jangan ragu-ragu.. kesempatan bagus ituu!"
- seorang teman
"ditugasin ke Bali, cha? wah enaknyaaa"
- teman yang lain
dan reaksi-reaksi lainnya...
Ternyata, sebagian besar yang mendengar kabar saya ditugaskan ke Bali menganggap bahwa karir saya makin bagus yaa. Saya Aamiinin dulu deh, Aamiin. Cuma jujur aja, waktu pertama kali mendengar kabar itu saya sendiri gak merasa bahwa ini adalah kenaikan karir saya, gak kepikiran kesitu malah. Saya malah heran sendiri, kok ini PM saya pede sekali kirim saya ke project ini wong saya belum pernah sebelumnya pengalaman setup project swap seperti ini. Mana saya perempuan pulak, kok si PM percaya sama saya dan berani ambil resiko yaa?!!
Sampai sekarang saya gak tau alasannya apa, tapi anggap saja memang PM saya ini berani ambil resiko dan ingin memberi saya kesempatan untuk berkembang. Jadi dikirimlah saya yang belum berpengalaman sebelumnya ke project "WOW" ini..
Tapi pada akhirnya saya memang perlu mengucapkan terima kasih kepada sang PM. Terima kasih karena telah memberi saya kesempatan untuk berkembang. Seperti yang pernah saya bilang, motivasi dan kekuatan akan muncul justru disaat kita sedang dalam keadaan tertekan. Dan awal-awal project ini sungguh membuat saya sangat tertekan. Bekerja sendiri, berpikir sendiri, berusaha memecahkan masalah sendiri itu benar" gak mudah. Saya stres! Jerawat bermunculan, badan kurusan, kulit iteman *oke, yang ini karna mantai mulu*. Intinya awal-awal project itu memang benar-benar membuat saya gak betah dan pengen pulang ke Bandung. Serius, saya sampai pernah benar-benar mengajukan resign! ..yang akhirnya gak jadi karna diiming-imingi partner baru untuk mengurangi load kerjaan saya.
Sekarang kondisi sudah mulai terkontrol, minimal sudah tau jam-jam dan hari-hari sibuk. Sudah tidak terlalu kaget lagi dengan request yang aneh-aneh. sudah mulai pasrah dengan ketidak-jelasan kapan akhir dari project ini. dan ya, sudah mulai berkurang load kerjaan saya meskipun hee.. kesabarannya tetep selalu di uji. tarik napas buang napas sudah tidak asing saya lakukan lagi.
Tekanan-tekanan yang datang dulu mendorong saya untuk mengeluarkan kemampuan-kemampuan saya. Saya terus belajar. Setiap kerjaan yang datang, tidak selalu saya tau bagaimana menyelesaikannya. tapi saya coba, saya pelajari dan Alhamdulillah selalu bisa selesai dengan baik. Sering salah itu biasa, hasil kerjaan di komplain juga biasa, saya belajar dari kesalahan-kesalahan yang pernah saya buat. saya bukan engineer pintar, saya bukan expert yang seperti orang bilang, saya bukan senior oss, saya masih engineer biasa yang terus belajar dan terus berusaha mencoba menyelesaikan setiap request yang aneh-aneh dan belum pernah saya kerjakan sebelumnya. Sesimple itu saja. Karna ini semua, saya merasa kalau "nilai" saya sudah bertambah :)
"Sekarang mah nikmatin aja di Bali, orang mah belum tentu seberuntung Yuan :)"
- tante
Bbm dari tante beberapa jam lalu. Sebelumnya saya curhat kalau pengen kerja di Bandung tapi rejekinya belum ada. dan kemudian jawaban dari tante kembali mengingatkan saya untuk bersyukur ketika saya hampir lupa. Terima kasih.. :')
Thursday, February 14, 2013
Wednesday, February 13, 2013
Kode
"gimana kamu mau dapetin calon suami kalo kamu sendiri masih belum bisa buka hati kamu?"
"kamu gak ngerti, padahal itu kode"
"iya, emang keliatan. kamu tuh susah dideketin"
Entah kenapa, pagi ini tiba-tiba teringat kata-kata yang pernah terlontar beberapa bulan ke belakang itu. Kata-kata dengan maksud serupa tapi tak sama, di waktu dan dari orang yang berbeda.
Hanya ingin mencoba mengklarifikasi:
"bukan, bukan saya tidak mengerti kode. Justru karna saya mengerti, saya menjaga jarak. Saya hanya tidak ingin memberi harapan yang tidak bisa saya janjikan. Maaf jika ternyata mengecewakan, mungkin saya sudah melewatkan seseorang yang baik untuk saya. Sejujurnya saya tidak ingin menjaga jarak, tapi saya sendiri tidak bisa memaksa hati yang belum tergerak ini :("
Kalau mengutip kata Dee Lestari di kisah Perahu Kertasnya, saya belum mencapai titik dimana hati telah dipilih dan berlabuh ditempat semestinya. Dengan kondisi seperti ini, saya takut tidak bisa memberi segala-galanya ketika orang tidak menuntut apa-apa dari saya.
Itu alasan saya, dulu.
Tidak terlihat ada penyesalan dibalik tulisan ini kan? :|
"kamu gak ngerti, padahal itu kode"
"iya, emang keliatan. kamu tuh susah dideketin"
Entah kenapa, pagi ini tiba-tiba teringat kata-kata yang pernah terlontar beberapa bulan ke belakang itu. Kata-kata dengan maksud serupa tapi tak sama, di waktu dan dari orang yang berbeda.
Hanya ingin mencoba mengklarifikasi:
"bukan, bukan saya tidak mengerti kode. Justru karna saya mengerti, saya menjaga jarak. Saya hanya tidak ingin memberi harapan yang tidak bisa saya janjikan. Maaf jika ternyata mengecewakan, mungkin saya sudah melewatkan seseorang yang baik untuk saya. Sejujurnya saya tidak ingin menjaga jarak, tapi saya sendiri tidak bisa memaksa hati yang belum tergerak ini :("
Kalau mengutip kata Dee Lestari di kisah Perahu Kertasnya, saya belum mencapai titik dimana hati telah dipilih dan berlabuh ditempat semestinya. Dengan kondisi seperti ini, saya takut tidak bisa memberi segala-galanya ketika orang tidak menuntut apa-apa dari saya.
Itu alasan saya, dulu.
Tidak terlihat ada penyesalan dibalik tulisan ini kan? :|
Friday, February 8, 2013
Rumit
Pernah merasa “dekat” dengan seseorang yang padahal kamu sendiri
tidak kenal dengan baik? Hanya sebatas saling sapa tidak sampai saling “berbicara”.
Hanya sebatas saling tau tidak sampai saling “mengetahui”. Hanya sebatas itu, tidak pernah lebih. Sesuatu
yang tidak memiliki alasan dan terjadi begitu saja. Padahal jika berlogika
dengan keadaan yang seperti ini, kemungkinannya pasti hampir tidak ada. Tidak
mungkin, ya tidak mungkin. Kecuali jika memang
Tuhan sudah berkehendak. Tapi entah kenapa seperti ada sesuatu yang saya
sendiri tidak bisa gambarkan, sesuatu yang “ada”.
Jika melihat ke belakang, sejujurnya memang sulit sekali
buat seorang saya untuk bisa diluluhkan. Saya yang rumit ini mungkin selama
hidup baru pernah merasakan jatuh cinta satu kali. Dan berujung pada tidak berjodoh,
sayangnya. Haha. Oh hemm ralat, mungkin hampir dua kali. Kenapa hampir? Karna saat
sebelum kemungkinan itu terjadi, saya sudah menarik diri. Saya tetap memilih
jalan yang saya anggap “jalan kebenaran” ketika itu.
Dan entah mungkin saya sudah melewatkan seseorang yang baik
untuk saya, saya tidak tau. Semoga saja tidak, semoga saja karna kita memang
bukan berjodoh. Sesungguhnya setiap kali sebuah pilihan datang kepada saya dan mengharuskan
saya untuk mengambil keputusan, saya merasa tidak baik. Bingung, kaget, dan
kesal terhadap diri sendiri itu sudah pasti. Kenapa? Karna sampai saat itu saya
tidak bisa dengan lantang dan yakin memilih “iya”. Rasanya seperti tidak
mensyukuri apa yang sudah Tuhan beri, tidak memanfaatkan kesempatan yang sudah
Tuhan kasih. Tapi saya tidak mau berbohong, membohongi diri sendiri yang
berujung pada ketakutan menyakiti hati seseorang nantinya.
Dan entah mungkin saya sudah melewatkan seseorang yang baik
untuk saya, saya tidak tahu. Yang pasti, saya meyakini jika sesuatu yang memang
sudah ditakdirkan Tuhan itu tidak perlu menyakiti hati seseorang yang lainnya.
Jika seseorang itu memang yang dikirimkan Tuhan untuk saya, sudah pasti tidak
perlu ada orang-orang lain yang merasa tersakiti. Jika ada yang akan tersakiti,
saya biasanya memilih mundur secara teratur. Ya, saya memang sebegini rumitnya.
Tapi saya tetap memegang teguh keyakinan itu sampai saat ini.
Dan entah mungkin saya sudah melewatkan seseorang yang baik
untuk saya, saya tidak tahu. Saya yang dengan
tampang, kelakuan, dan kecerdasan yang serba pas-pasan ini masih bisa diterima
di hati orang-orang harusnya bersyukur. Saya tidak pernah berpikir akan ada orang
yang datang kepada saya, mengutarakan perasaanya, dan menerima saya apa-adanya.
Tapi percaya tidak percaya itu pernah terjadi, beberapa kali dan dari
orang-orang yang tidak saya sangka sebelumnya. Ketidakmenyangkaan itulah yang
membuat saya pada akhirnya bingung dan kesal sendiri.
kesal! Karna disaat ada yang meminta dan menerima saya apa
adanya, saya tidak bisa berkata “iya” karna satu dan lain hal. Dan sekarang,
justru seseorang yang bahkan tidak saya kenal yang malah membuat saya ingin
berkata “iya”. Entah kenapa saya ingin kamu, padahal kenal kamupun tidak. Hidup
memang aneh, ya.
Sekarang, saya tidak percaya diri lagi jika harus memulai. Setiap
saya ingin memulai dan mencoba, ternyata jalan yang terlihat tidak ada. Dan ketika
saya tidak berencana memulai tapi ada kesempatan yang datang, saya begitu sulit
percaya dan sulit diluluhkan. Aahh, proses mencintai dan dicintai yang masih
berjalan sendiri-sendiri ini semakin membuat saya penasaran dengan rencana
Tuhan. semoga proses “saling” ini segera bisa bertemu di suatu titik terbaik..
Subscribe to:
Posts (Atom)