Saya ingin bercerita tentang bapa. Satu-satunya bapa
terhebat di seluruh dunia. Saya ingin kalian mengenal bapa dengan membagikan
kisahnya pada kalian..
Bapa anak ke-2 dari 8 bersaudara. 2 laki-laki dan 6
perempuan. Adik bapa yang laki-laki sudah lama meninggal, sewaktu mereka
sekeluarga sedang liburan di Pangandaran semasa remaja dulu. Kata bapa, kalau
tidak salah kaki Almarhum tersangkut karang, kram, dan akhirnya tenggelam di
pantai waktu itu. Jadilah bapa tinggal satu-satunya anak laki-laki dikeluarga
kakek.
Waktu bapa kelas 6 sd, bapa pernah sakit. Nenek bawa bapa ke
dokter untuk diperiksa. Ternyata ada pemeriksaan rontgennya waktu itu. Bapa di
rontgen, dan terdapat flek-flek putih yang pada akhirnya membuat bapa harus dirawat
di rumah sakit. Kamar bapa seperti kamar isolasi, tidak boleh ada sembarang orang yang menjenguk karna takut menular.
Piring, gelas, semua peralatan makan harus bawa sendiri dari rumah. Cara
memberi makannya pun diberikan lewat jendela. Sebegitunya kah?
Bapa lumayan lama menginap di rumah sakit. Saking bosannya, bapa
sering bantu petugas rumah sakit untuk menyapu dan mengepel lantai. Sampai
suatu waktu, nenek membawakan bapa radio supaya bapa gak terlalu bosan. Bapa
senang dan langsung menghidupkan radio itu. Tapi, bapa merasakan ada yang aneh
dengan radio itu. Volume suaranya rusak, jadi tidak ada suara yang terdengar.
Dan seketika itu pula nenek kaget melihat respon bapa lalu menangis. “Ada apa
dengan anaknya?”, pikir nenek waktu itu. Radio itu tidak rusak, suara radio itu
kencang sekali karna volume sudah di-set paling maksimum sementara bapa tidak
bisa mendengar apa-apa. Nenek langsung panggil dokter dan menanyakan keadaan bapa.
Bapa diperiksa, dan ternyata fungsi gendang telinganya sudah rusak. Sejak itu bapa
tidak bisa mendengar secara normal lagi. Sejak itu bapa harus bergantung kepada
alat bantu pendengaran. Bisa dibilang bapa Tuna Rungu, tapi saya tidak mau
menyebut demikian. Dan kenapa telinga bapa bisa tiba-tiba tidak berfungsi
secara normal seperti itu? Jawabannya adalah adanya kesalahan diagnosa dari
dokter. Flek-flek putih hasil rontgen yang katanya terdapat di paru-paru bapa,
ternyata tidak ada. Flek-flek putih itu berasal dari alat rontgen yang rusak!
Obat-obat dengan dosis tinggi yg terpaksa masuk tubuh bapa karna kesalahan
diagnosa dokter yang pada akhirnya merusak gendang telinga bapa. Argh!
Mendengar ceritanya membuat geram! Tapi ya sudahlah, itupun sudah puluhan tahun
yang lalu. Saya kurang tau pasti apakah nenek dan kakek waktu itu menuntut
pihak rumah sakit karna kesalahan diagnosa ini atau tidak. Saya Cuma tau bapa
sudah melakukan pengobatan kemanapun dan juga melakukan operasi tapi telinga bapa
tetap tidak bisa kembali normal lagi.
Bapa mulai beradaptasi dengan “penampilan baru”-nya.
Ternyata, meskipun bapa memakai alat bantu pendengaran tapi itu tetap agak
menyulitkan bapa dalam proses belajar di sekolah. Dan, entah ide dari siapa
waktu itu.. bapa sampai harus pindah sekolah ke.. Sekolah Luar Biasa (SLB). Yap!
Bapa sempat sekolah disana. Bapa pernah menunjukkan SLB tempat bapa sempat
sekolah disana dulu, sedih. Selama bersekolah disana, para guru merasa tidak
ada masalah dengan bapa. Para guru bilang, otak bapa pintar tidak bermasalah.
Hanya pendengaran saja yang kurang, jadi bapa sebaiknya kembali bersekolah di
sekolah normal. Akhirnya, bapa kembali ke sekolah biasa dan selepas smp bapa
dimasukkan ke STM supaya langsung punya keahlian dan lebih banyak prakteknya.
Lulus dari STM, bapa mulai cari-cari kerja. Waktu itu bapa
ikut tes masuk salah satu Bank Negeri dan Alhamdulillahnya lolos meskipun bapa
ada kekurangan. Dari semenjak itu bapa mulai bekerja. Dan ketika dalam masa
bekerja itu, bapa sempat melanjutkan kuliah. Tapi, lagi-lagi karna keterbatasan
pendengaran.. bapa kurang bisa mengikuti. Sampai akhirnya suatu hari, bapa
bilang sama nenek kalau bapa gak usah melanjutkan kuliah lagi. Kata bapa, biar
saja uangnya untuk sekolah adik-adik-nya sampai tinggi.. bapa cukup sekolah
sampai sini aja tidak apa-apa. Dan yaa, kakak dan semua adik-adiknya sekolah
sampai sarjana.. Cuma bapa yang lulusan STM. Waktu nenek cerita soal ini kepada
saya, mata nenek berkaca-kaca dan suaranya tertahan. Dan saat saya menulis
inipun, mata saya berkaca-kaca dan tenggorokan saya tertahan. Saya bangga sama bapa..
saya tau pasti bapa saat itu ingin sekali sekolah sampai bisa sarjana, karna bapa
memang orang pintar sebenarnya :’)
Tapi semuanya tetap disyukuri, karna bapa mendapat pekerjaan
yang Alhamdulillah. Bisa nyicil rumah dan mobil dari pekerjaan sebagai karyawan
suatu perusahaan itu kan Alhamdulillah yaa. Sampai akhirnya bapa ketemu mamah,
dan akhirnya menikah dan dikaruniai 3 anak perempuan. Bapa termasuk kepala
keluarga yang sangat bertanggung jawab terhadap anak-anak dan istrinya. Bapa
juga mengajarkan agama dan pentingnya beribadah dari semenjak anak-anaknya
kecil. Bapa bisa memberikan contoh yang baik, jujur, sederhana. Bapa senang
membaca dan ke bioskop nonton film sebenarnya. Tapi semenjak punya anak, bapa
jarang nonton film di bioskop lagi. Mungkin karna lebih baik uangnya buat anak
ya. Bapa pendiam sebenarnya, tapi kalau sudah marah bisa seram sekali. Kadang,
karna keterbatasan pendengarannya itu bisa membuat bapa misscommunication dengan orang-orang, termasuk anak dan istrinya. Tapi
intinya, sebagai anak bapa sangat membuat saya dan adik adik bangga sekali
punya bapa seperti bapa.
Keterbatasan pendengaran bapa kadang membuat saya sedih.
Kalau ngobrol dengan orang, konsultasi dengan dokter, ngobrol dengan wali kelas
pas pembagian raport, dan lainnya itu sebaiknya ada mamah atau anaknya yang
mendampingi supaya tidak ada
misscommunication. Bapa juga tidak bisa menyanyi karna jarang mendengar
lagu. Suka sedih liatnya kalo kita sedang kumpul keluarga besar dan karokean, bapa
Cuma bisa diam melihat saja. Kalau sedang ada acara kantorpun juga begitu, suka
sedih aja liat bapa diem sementara teman-temannya bercanda-canda. Dan kalau
mencari handphone, hal utama yang dicari adalah yang kualitas suaranya nyaring.
Biasanya bukan handphone keluaran terbaru, tapi handphone keluaran lama yang biasanya
punya kualitas suara yang lebih nyaring agar terdengar bapa. Dan yang membuat
sedih lagi adalah, perjalanan karir bapa. Bapa sudah menjadi karyawan tetap di
salah satu bank di Indonesia mungkin sekitar belasan taun atau mungkin puluhan
taun ya. Tapi kenaikan jabatan bapa sangat lambat karna keterbatasan bapa ini,
ditambah bapa yang hanya lulusan STM. Sekali lagi sedih, teman-teman bapa yang
seperjuangan dulu sudah menjabat sebagai inilah itulah sementara bapa masih
begini aja. Saya tidak masalah sebenarnya, mau bapa Cuma staff biasa itu tidak
masalah buat saya. Tapi sebagai bapa, seseorang yang sudah bekerja puluhan
tahun dan melihat teman-teman seangkatannya sudah mencapai titik yang tinggi
pasti membuat bapa sempat tertekan. Pasti bapa juga ingin dan sebenarnya bisa
seperti mereka. Tapi, lagi-lagi keterbatasan itu sepertinya menjadi faktor
penghambat bagi perusahaan dalam memberikan kepercayaan kepada bapa. Entah,
saya kurang mengerti. Apalagi saat ini banyak sekali anak-anak muda yang
pendidikannya jauh lebih tinggi dari bapa. Kadang saya malu, saya baru bekerja
2 tahun saja sudah banyak mengeluh sementara bapa yang sudah bekerja puluhan
tahun dan masih begitu-begitu saja jarang mengeluh. Memang bosan tapi jalani
saja apa yang ada, kata Bapa.
Karna bapa dikelilingi oleh banyak perempuan (ibu, istri, 6
saudara perempuan, 3 anak perempuan), pastinya tanggung jawab yang harus
dipikul bapa berat sekali karna harus menjaga perempuan-perempuan ini. Maka
dari itu, sebagai anak saya harus bisa menjaga diri saya sendiri. Dimanapun
saya berada, saya harus menjaga kehormatan saya sebagai perempuan. Apalagi saya
hidup di ibu kota, jauh dari rumah. Gak boleh macem-macem, harus menjaga nama
baik keluarga. Harus jadi perempuan baik-baik. Mungkin itu sedikitnya yang bisa
saya lakukan sebagai anak untuk mengurangi beban bapa.
Saya berdoa selalu semoga mamah dan bapa selalu diberi
kesehatan. Kalau dilihat dari hasil medical check-up bapa secara keseluruhan
kemarin Alhamdulillah sih bagus semua. Kolesterolnya yang sempat naik tahun
lalu sekarang sudah turun dan termasuk normal. Paru-parunya juga masih bagus,
karna bapa memang bukan perokok. Jantung, usus, dan lain-lainnya pun masih
berfungsi dengan bagus. Alhamdulillah, semoga terus seperti itu. Aamiin.




